Rabu, 28 Oktober 2009

pertanyaan untuk pak kepala

hari ini saya bertanya pada kepala...
pak saya mohon kejujuran anda, berapa banyak uang yang anda setor untuk kasi urais...
40 rb rupiah per pengantin... jawab nya...

lho pak, bagaimana bisa setorannya melebihi PNBP setoran untuk negara? bukankah ini nda betul pak?
Kepala hanya menjawab lirih.. ini permasalahan jabatan, kalo nda setor, jabatan ini dipertaruhkan...
kalo begitu bapak takut sama jabatan tidak takut sama Allah? bukankah itu haram pak?
Kepala hanya tertunduk dan berkata nanti kalau sudah saatnya kamu pada posisiku, kamu akan tahu sendiri.

aku mengeluh, huh!!! moga aku tidak mempertaruhkan agamaku dengan jabatan sesaat, moga aku takut terus pada Allah, dan dijauhkan dari jabatan yang membuatku jauh dari Tuhanku yang ku tuju.

Kamis, 09 Juli 2009

sakitnya bos pun jadi peluang

saat ada kesempatan rolling jabatan, kepala kantor sakit. luar biasa ternyata sakitnya pun bisa jadi komoditas. karena seorang kandidat yang sangat -hubbul jaah- ternyata berusaha menyembunyikan sakitnya sang kepala, agar hanya dia yang terlihat peduli dan bisa naik jabatan. setiap ada kesempatan bertemu kepala sang kandidat dan kompetitornya berebut sowan mirip anak kecil yang berebut mainan dan berkoar bila dia orang yang paling dekat. saat sang kepala terlihat tidak berkenan akan sesuatu, sang kandidat dan kompetitor berusaha kirim hadiah agar kepala senang. menyadari bahwa setiap amanah ada tanggung jawab yang diemban dihadapan Allah memang tidak mudah

Senin, 20 April 2009

tamak tanpa batas

sungguh mengherankan, dengan alasan menghindari dobel gaji sukarelawan, seorang kepala kua yang hampir setiap jumat memegang tongkat berkhutbah, memotong gaji karyawan sukarelawannya... shubhanaLLah, gaji yang hanya 375.000 rupiah dalam tiga bulan hanya diberikan... 75 ribu saja...

berkhutbah memang gampang, tapi bisakah kita mempraktekkannya?

Jumat, 03 April 2009

Lurah Kaget....!

beberapa waktu yang lalu dalam rakorcam, kepala kua menyampaikan bahwa biaya nikah dengan konsekwensi diurus sendiri Rp.30.000.-. tak dinyana para lurah kaget karena usut punya usut lurahnya sudah biasa meminta lebih banyak dari itu. kelurahan meminta 50 rb lebih... bagaimana bisa biaya yang berhak menarik kua, yang illegal malah minta lebih banyak, kalo begini, siapa yang korup?